![]() | |
Mengenal Perbedaan Match Fixing dan Match Setting (sumber gambar: https://www.instagram.com/polsekbalaraja_tangkab) |
Persepakbolaan
Indonesia sedang heboh selama beberapa waktu terakhir, pasalnya beberapa
akhirnya yang berani memutuskan untuk membuka suara seputar kasus pengaturan
skor pertandingan yang dilakukan oleh sejumlah oknum. Keberanian beberapa orang
untuk bersuara tersebut akhirnya membuka semua takbir kelam persepakbolaan di
negeri ini.
Desakan
demi desakan dari pihak-pihak lain agar semua ketidakberesan yang ada dalam
sepak bola nasional segera diluruskan akhirnya membuat pihak kepolisian
membentuk suatu satuan tugas khusus untuk menangani kasus pengaturan skor
pertandingan. Satuan tugas baru tersebut diberi nama SatGas Anti Mafia Bola.
Tulisan
kali ini tidak akan membahas mengenai SatGas Anti Mafia Bola yang khusus dibentuk
oleh kepolisian untuk mengusut dan menangani kasus match fixing dan match
setting. Sesuai judulnya, tulisan akan memperjelas perbedaan match fixing dan
match setting. Karena banyak pihak kemungkinan tidak benar-benar memahami makna
dari suatu istilah tersebut. Selamat menyimak.
Match
Fixing terdiri dari dua kata: match dan fixing. Match bisa diartikan sebagai
pertandingan, laga, pertarungan, dan sejenisnya. Fixing dalam kamus bahasa
Inggris termasuk ke dalam noun atau kata benda. Fixing terdiri dari dua suku
kata: ‘fix’ dan ‘-ing’. Sehingga menurut kamus kata ‘fixing’ bisa berarti upaya
untuk membuat sesuatu menjadi ‘fix’. Sementara itu, kata ‘fix’ sendiri juga
memiliki beberapa arti diantaranya ‘memperbaiki’, ‘menyesuaikan’, ‘mengatur’, ‘menata’,
‘menentukan’, ‘menetapkan’, ‘mengarahkan’, dan sejenisnya.
Berdasarkan
penjelasan mengenai arti kata ‘match’ dan ‘fixing’ sesuai kamus maka match
fixing bisa diartikan secara lebih bebas sebagai suatu upaya untuk mengatur
pertandingan. Jadi yang diatur dalam match fixing adalah pertandingannya. Jika
coba lebih diperjelas lagi yang diatur oleh para match fixer (pelaku match
fixing) adalah suatu pertandingan tertentu saja yang spesifik bukan semua
pertandingan atau beberapa pertandingan yang saling terkait.
Lalu
apa saja yang bisa diatur dalam suatu pertandingan ? Banyak hal bisa diatur
dalam suatu pertandingan diantaranya skor akhir pertandingan, pencetak gol,
menit terciptanya gol, cara terciptanya gol, jumlah kartu kuning atau merah,
pemain yang terkena kartu, dan banyak hal lagi.
Namun dari
semua yang memungkinkan diatur dalam suatu pertandingan, yang lebih umum diatur
adalah hasil akhir atau skor akhir suatu pertandingan. Oleh karena itu, match
fixing juga lebih sering diartikan sebagai pengaturan skor pertandingan.
Match
fixing juga dapat disebut atau diistilahkan sebagai match manipulation. Sebab
dengan segala sesuatunya sudah ditentukan sejak awal bahkan sebelum pertandingan
dimulai maka ketidakpastian terkait dengan suatu pertandingan menjadi hilang.
Yang
perlu diketahui pula bahwa match fixing ini tidak hanya berlaku atau terjadi di
pertandingan atau olahraga sepak bola seperti yang sekarang sedang menjadi
bahasan banyak pihak di negeri ini. Semua pertandingan olahraga dapat menjadi
sasaran dari match fixing.
Itu
tadi penjelasan mengenai match fixing. Bagaimana dengan match setting ? Pada
dasarnya match setting memiliki kemiripan dengan match fixing. Sebab kata ‘setting’
sendiri secara makna kamus juga dapat diartikan sebagai ‘mengatur’, ‘menentukan’,
‘menetapkan’. Jadi match setting secara kamus dapat diartikan sebagai mengatur
pertandingan.
Lantas
apa beda match fixing dan match setting ? Berdasarkan beberapa informasi yang
berhasil dikumpulkan, match fixing adalah suatu upaya pengaturan pertandingan
yang lebih spesifik ke suatu pertandingan tertentu saja dan umumnya berhubungan
dengan hasil akhir suatu pertandingan. Sementara match setting adalah suatu
upaya pengaturan pertandingan dalam kaitannya dengan pertandingan lain yang
berlangsung pada saat bersamaan atau pertandingan yang akan berlangsung
setelahnya.
Untuk
lebih memahami perbedaan match fixing dengan match setting akan diperjelas
melalui sebuah contoh (ini hanya contoh saja dan tidak diketahui pasti apakah
benar terjadi atau tidak). Pada pertandingan terakhir fase grup Liga Champions
Eropa, diketahui bahwa juara grup A akan bertemu dengan runner-up grup B pada
babak selanjutnya. Sebelum pertandingan berlangsung, Manchester United sedang
berada di puncak klasemen grup A dengan keunggulan satu poin dari Ajax
Amsterdam. Sementara itu Barcelona berada di posisi kedua klasemen grup B
sebelum pertandingan terakhir dengan selisih tiga angka dari Fenerbahce yang
secara mengejutkan mampu berada di pucuk klasemen dan kemungkinan besar akan
lolos sebagai juara grup B.
Mengetahui
fakta tersebut, maka seluruh ofisial Manchester United sudah mempersiapkan
sebuah rencana untuk mengalah atau setidaknya hanya memperoleh satu poin saja
saat berhadapan dengan AEK Athens pada laga terakhir. Harapannya dengan hasil
tersebut, Ajax Amsterdam yang dijagokan menang atas tamunya Malmo FF akan naik
ke puncak klasemen dan bertemu Barcelona di babak gugur. Manchester United
berupaya sebisa mungkin menghindari Barcelona di babak gugur pertama dengan
harapan dapat melaju sejauh mungkin di Liga Champions.
Itulah
contoh dari match setting. Dalam contoh tersebut Manchester United memang
sengaja mempersiapkan untuk kehilangan poin penuh pada laga terakhirnya demi
menghindari bertemu Barcelona lebih dini.
Match
setting tidak selalu melibatkan pihak luar sebab bisa jadi pihak klub sendiri
yang sudah merencanakan kehilangan poin demi suatu tujuan jangka panjang atau
tujuan yang lebih besar. Sementara match fixing dipastikan melibatkan beberapa
pihak diluar klub agar hasil akhir pertandingan dapat dipengaruhi.
Semoga
penjelasan di atas dapat membantu kita semua mengenal perbedaan match fixing
dan match setting. Apabila ada yang ingin memberikan komentar atau membantu
menambah penjelasan silakan berikan komentar pada tulisan ini.
[diolah dari berbagai sumber]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar